MAN 2 ADIWIYATA
MANDAPRO adalah
sebutan familiar bagi MAN 2
Probolinggo. Madrasah ini dibangun
di atas lahan seluas 584
m2 di Jl. Soekarno Hatta No.
255 dan berjarak hanya sekitar
500 m dari pintu gerbang Kota
Probolinggo. Berada di samping
SMAN 1 Probolinggo,
MANDAPRO penuh dengan
nuansa warna hijau.
Madarasah ini menggiatkan
program “Satu Jiwa Satu
Pohon”. Tiap siswa wajib
menanam, menjaga dan merawat
tanamannya agar tumbuh
subur. Maka wajar jika
di madrasah ini terdapat aneka
macam tetumbuhan dan beragam
warna tanaman. “Kami memang
tengah menyiapkan hutan sekolah. Ini
adalah wujud kepedulian siswa untuk turut
serta dalam usaha konservasi alam,”
ujar Dra. Siti Fatimah, S.Pd, M.Pd.
Di halaman depan, tepatnya di sisi
Utara Masjid, terdapat Green House. Rumah
mungil berisi aneka tanaman itu, selain
untuk media edukasi, juga sebagai sumber
oksigen dan relaksasi. Disamping
tanaman hias, pepohonan yang rindang dan
ragam buah-buahan, juga ada banyak jenis
tanaman obat yang ditanam, seperti jahe,
kencur maupun kunyit. “Tanaman obat
itu nantinya akan diproses siswa menjadi
aneka produksi jamu,” terang Kepala
MAN 2 Probolinggo itu.
Ragam warna bunga dan dedaunan
dari aneka macam tanaman itu pun nantinya
juga dimanfaatkan siswa untuk membuat
karya seni berupa KOBUDA (Kostum
Busana Daun). Salah satu produk
daur ulang berupa kerangka daun sirsat
yang perform sebagai baju KOBUDA pun
dipamerkan sebagai produk kebanggaan
Kota Probolinggo.
Beragam hasil kreasi siswa dari proses
daur ulang sampah pun tak kebilang
jumlahnya. Dari bahan olahan kertas bekas,
mereka membuat ragam topeng maupun
kerajinan kaligrafi. Aneka produk tas
dari hasil sulaman siswa, turut pula memperkaya
produk kerajinan MANDAPRO.
Ada pula kap lampu dari potongan
bambu. “Proses pembuatannya bahkan
sempat ditayangkan di TV One beberapa
waktu lalu,” ujar perempuan yang biasa
dipanggil Bu Fatim ini bangga.
Di samping itu, MANDAPRO juga
memiliki banyak kolam ikan – baik yang
berukuran sedang sekitar 2 x 1,5 m hingga
kolam berukuran besar mencapai 4 x 4 m.
Kolam-kolam itu menempati ruang di halaman
depan sekolah dan di sepanjang
bentangan jalan menuju gedung belakang
madrasah. Pada dinding pagar madrasah,
juga terdapat lukisan Mural dengan beragam
tema. Yang melukis siswa sendiri.
Masing-masing kelas menggambar sesuai
dengan pesan tema yang ingin disampaikannya.
Selain panorama
alam pegunungan dengan aneka
ragam tanaman, juga ada lukisan
kaligrafi hingga karikatur.
Hutan sekolah, Green
House, kolam ikan, produk
kerajian dari daur ulang sampah
hingga kreasi lukisan mural,
hanyalah sebagian kecil saja
dari media pembelajaran
bagi siswa agar lebih mengenal
dan menghargai alam lingkungannya.
Lebih dari itu, MANDAPRO
menggerakkan siswanya
agar berperan aktif dalam
pelestarian lingkungan
alam Kota Probolinggo. Barubaru
ini, siswa MANDAPRO
melakukan penelitian terhadap 14 sumber
mataair di Probolinggo. Bahkan hasil
penelitian itu dijadikan rujukan oleh Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo.
Selain mengukur luas sumber mataair
dan menghitung debit airnya, mereka
juga mengamati perubahan warna air –
meski tak sampai meneliti kandungan
airnya.
Dari hasil pengamatan itu, mereka
menemukan beberapa sumber mataair
yang tidak terawat dengan semestinya.
Bahkan tak sedikit sumber mataair yang
telah keruh dan berubah warna akibat
pencemaran lingkungan. “Tapi yang melegakan,
masih ada dua sumber mataair
yang masih cukup bagus dan bisa ditingkatkan
kualitas airnya dan fungsinya, yaitu
Sumber Pacar dan Sumber Lor,” ujar
Istri Drs. Ali Sodik, M.Pd ini.
Selama ini, kedua sumber mata air
itu hanya untuk kebutuhan mandi dan cuci
warga, serta menyirami taman kota. “Jika
saja sumber mataair itu dikelola lebih baik
lagi, kami yakin kedua sumber mataair itu
MAN 2 PROBOLINGGO Menuju Madrasah Adiwiyata
Penanaman Mangrove: Guru PLH MAN 2 bersama siswa dari
AS dan guru dari Denmark di pantai Ketapang Probolinggo
Relaksasi: Reporter MPA Nuvita Yuliantini (kanan) bersama
Kepala MAN 2 Probolinggo beserta guru di depan Green House
Konservasi Lingkungan aneka ragam tanaman tumbuh di hutan
sekolah milik MAN 2 Probolinggo
MPA 312 / September 2012 43
bisa untuk memenuhi kebutuhan air
minum warga,” ujarnya. Dalam
rangkaian penelitian itu, para siswa
juga tak lupa untuk membersihkan
sumber mataair, serta menanam
beragam tanaman seperti pohon Sengon
dan Mahoni di sekitar sumber.
Siswa MANDAPRO juga
pernah turut serta dalam kegiatan
konservasi pantai dalam tajuk
acara “Telusuri Pantai” yang
diprakarsai Dinas Kelautan dan
Perikanan Kota Probolinggo.
Mereka pun menyusuri pantai
untuk mengenali karakter pantai
dengan ekosistem Mangrove dan
menanam bibit bakau. Di tengah
perjalanan, para siswa diberi kesempatan
menebar benih ikan di tambak
milik warga.
Apa yang dilakukan MANDAPRO
ini adalah wujud keseriusannya menjadi
Madrasah Adiwiyata. Karenanya, sejak
tahun 2010 MANDAPRO melaksanakan
pembelajaran muatan lokal Pendidikan
Lingkungan Hidup (PLH). Untuk menunjang
program Adiwiyata, MANDAPRO
mendapat pembinaan dari BLH Kota
Probolinggo. Mereka juga menjalin kerjasama
dengan Dinas Pertanian, Dinas Kelautan,
PPLH Seloliman-Mojokerto,
PPAB Kaliandra, Kebun Raya Purwodadi,
Agrowisata Bhakti Alam dan Yayasan Satu
Daun sebagai pelaksana CSR PT Tirta
Investama.
Yang menarik, pembelajaran langsung
di lapangan semacam ini merupakan
pembelajaran yang integratif antara berbagai
mata pelajaran yang ada di MANDAPRO.
“Maka sebagai umpan
balik, siswa mengerjakan banyak
laporan ilmiah, membuat makalah,
majalah dinding dengan beberapa mata
pelajaran yang terintegrasi lingkungan,”
papar ibu dua anak ini.
Sebagai aplikasi pembelajaran
lingkungan Hidup, kegiatan ekstrakurikuler
juga dilaksanakan berbasis
lingkungan, misalnya OSIS, Pramuka,
Pecinta Alam, Kader Lingkungan dengan
aktivitas ekspedisi pantai, penanaman
hutan sekolah dan kampanye
lingkungan. “Setiap peringatan
Hari Bumi, kami menggelar Kemah
Bumi yang melibatkan semua ekstrakurikuler
dan membina SMP/MTs
yang telah melaksanakan atau merintis
Adiwiyata,” terang Bu Fatim. “Sedangkan
implementasi keagamaan
terwujud dalam lomba pidato Pendidikan
lingkungan dalam Perspektif
Islam,” tambahnya.
Pelaksanaan program Adiwiyata
ini, menurutnya, sejalan dengan pendidikan
karakter bangsa yang dicanangkan
dalam kurikulum pendidikan umum
di madrasah. “Oleh karenanya, semua pelajaran
di MANDAPRO berbasis karakter
bangsa, karakter budaya, karakter islami
dan karakter cinta dan peduli lingkungan,”
tuturnya.
Lantas apa yang mendorong madrasah
ini melaksanakan program Adiwiyata?
“Kecerdasan Intelektual saja tak
cukup bagi siswa. Ia juga harus berkualitas
dan tanggap lingkungan,” tukasnya. “Buat
apa kalau IQ tinggi, tapi tak bermanfaat
bagi lingkungannya,” tambahnya bernada
tanya.
Itulah sebabnya, mengapa MANDAPRO
tak lantas larut dalam euphoria
dan mengharuskan anak didiknya untuk
meraih juara dalam olimpiade seperti
yang dilakukan oleh sekolah lain. “IQ
tinggi itu perlu, tapi yang lebih penting
bagaimana siswa tumbuh menjadi pribadi
yang memiliki empati terhadap
lingkungannya, baik alam maupun
sosial,” tandasnya. Walau demikian,
bukan berarti Bu Fatim tak
sepakat adanya kejuaraan olimpiade.
“Tapi biayanya sangat tinggi.
Jadi, kami berpikir biaya sebesar
itu bisa untuk melakukan beragam
aktivitas lingkungan dan
bakti sosial yang lebih bermanfaat,”
terangnya.
Apalagi menurutnya, masih
banyak kegiatan yang bisa dilakukan
siswa tanpa harus mengeluarkan
biaya besar. Aktivitas sosial
yang dilakukan siswa MANDAPRO
pada Ramadhan kemarin,
adalah salah satu buktinya. Di antara
mereka, ada yang membantu membersihkan
dan mencuci mukena maupun
karpet yang berada di masjid atau mushola
di lingkungannya.
Di madrasah ini, ada pula program
“Jika Aku Menjadi” – mirip acara program
di salah satu televisi Swasta Nasional.
Para siswa akan berkunjung ke sebuah
rumah yang teramat minim kesejahteraannya.
Di rumah itu, para siswa turut
merasakan beban kehidupan tuan rumah
dengan ikut membantunya menyelesaikan
aktivitas kesehariannya.
Bulan Juli lalu, Crew Redaksi Semesta
– Majalah MANDAPRO – juga
melakukan Observasi Pendidikan, Sosial
dan Religi ke Pulau Gili. Butuh sejam perjalanan
dengan perahu menuju pulau terpencil
ini. Para siswa mempelajari bagaimana
penduduk setempat bertahan dan
menjalani hidup. Mencatat potensi alam
pantai Pulau Gili. Para siswa juga turut
membantu mengajar di sekolah setempat,
serta beragam aktivitas penelitian
sosial dan lingkungan lainnya. “Kepekaan
sosial seperti inilah yang harus
ditumbuhkan dalam diri siswa. Pendidikan
kita jangan hanya melulu pada
kecerdasan otak, melainkan juga harus
mengimbanginya dengan kecendikiaan
hati,” ujarnya.
Sebab madrasah, bagi Bu Fatim,
adalah media untuk mendidik siswa
menjadi manusia seutuhnya: cerdas
otaknya, bening hatinya dan bermanfaat
bagi alam lingkungannya. Untuk
itulah, MANDAPRO kini melengkapi
dengan membuka kelas Agama dan menghidupkan
kembali asrama yang sempat
lama tak berfungsi. “Akan ada beasiswa
bagi mereka yang hafal al-Qur’an 30 Juz.
Bagi mereka yang cuma hafal 5 Juz
maupun 10 Juz juga ada penghargaannya,”
paparnya. “Intinya, kami ingin
mencetak generasi Islami, berkualitas
dan berwawasan lingkungan,” tandasnya.